just simple, sharing, n so on

Tampilkan postingan dengan label swara. Tampilkan semua postingan

gravatar

- Vitalis Blossom -

Percakapan dua insan mahasiswa, gw sebagai Dika (emang nama gw kali om...) dan Ferdi sebagai temen gw (==')

Ferdi : (seperti sedang mengendus sesuatu, bayangkan sendiri wajahnya) "Dik, lu pake Vitalis Blossom ya??"

Gw : "Kok tau lu Fer?? Iya". *stay cool, padahal deg-degan takut disangka bencong (wujud asli gw takut terbongkar)

Ferdi : "Taulah, tu kan parfum cewek gw. Bau lu kayak cewek gw, pantes aja ada bebauan yg g asing dari bolongan hidung gw."

Gw : *lari terkiprit takut tiba-tiba si Ferdi megang tangan gw, meluk badan gw, dan nyosor kemudian bilang "Ohh... My darling I Love U..." *sambil joget dibalik pohon ala India

gravatar

Gw kalah lagi

Ada yg tau g kapan gw menangnya? Bisa-bisa degradasi nih.

gravatar

Lagi dan Lagi ... (Bukan judul lagu)

Mgkn apa yg gw rasain sm dg apa yg lg dirasain Luis van Gaal, oh... Bukan, mgkn lbh tepatnya Frank Ribery. Ribery gagal maen di final dan dia jg gagal mengangkat trofi Champions League.

Setelah minggu kmrn gagal 2x kali, minggu ini gw gagal lagi. T.T , dan kegagalan gw kali ini jg diwarnai dg kemenangan tmen selorong gw. Ya, gw kalah dalam salah satu kontes yg diadain di kampus. (Yg pasti bukan kontes kecantikan =="). Oh dear... Kapan kemenangan itu menghampiri gw, gw lelah dg kegagalan ini... Tp gw yakin, suatu saat nti gw bakal MenanG!!

Ok, terakhir.. don't judge a person from profil picture!

Sekian.


Mobile mode

gravatar

Dia telah mengatur semuanya, tak terkecuali .....

Manajemen waktu merupakan ssuatu yg bnyk menjadi pembicaraan para aktifis, khususnya di kampus. Memang benar, klo kita tdk pandai-pandai dlm memanajemen waktu, everything will be berantakan.

Adalah bobroknya sistem manajerial waktu gw. Gw lupa mengecek keadaan prajurit-prajurit pelindung selangkangan. Ya, gw kehabisan kolor alias celana dalam. Hari ini g ada kolor bersih. Sangat suram bila akhirnya gw harus ke kampus tanpa armada pasukan yg itu.

Alhamdulillah wa syukurilah. Jadwal kuliah pagi di batalkan seketika stlh mdpt sms jarkom sakti itu. "jarkom kilat!hri ini
responsi d tiadakan!!", baca sms yg gw terima smp 3x.
Alhasil, cm gw yg bertahan di kamar sndiri. Gery kuliah pagi, Ginonk nginep di asrama aceh, dan Budi nginep di rumahnya.

Pagi td stlh mandi, tanpa basa basi gw lgsg menuju tumpukan armada pasukan pelindung Ginonk. Menurut gw ability pasukan Ginonk mirip punya gw. Emmm... Sbenarnya, alasan utamanya krn sblm.nya gw pernah pake punya dia. (Ketagihan, haha. LoL).

Nong, hari ini gw pnjem lg. Dan gw blom bilang. Ntr gw pasti bilang kok Nong. Hehe....

Terimakasih Ya Allah, bahkan smp urusan celana dalam pun Engkau jg mengaturnya.

gravatar

- Gw olahragawan, sepakbola pernah nyelametin gw -

Jangan salah, gw ini olahragawan tetapi dalam konteks gw suka baca berita olahraga, terutama sepak bola, meskipun jarang-jarang gw memaininnya (kacau bahasanya, hehe..). Oke. Biasanya, olahragawan seperti tipe gw ini mempunyai ciri seperti berikut : (2 aja ya)

  1. G pernah ketinggalan nonton Sport 7, Lensa Olahraga, Spirit Football, One Stop Football, dan acara2 lain yg satu spesies. Mereka akan sangat hafal nama2 presenternya, maupun sejarah acara tersebut.
  2. Kalo baca koran, biasanya mereka akan membuka dan membaca terlebih dahulu halaman atau rubrik Olahraga.
  3. Satu lagi, tambahan... Klo online pasti buka livescore.com sama goal.com
sekarang gw mau cerita nih.

Ibarat bola itu bundar (udah bukan ibarat kali, emang bundar), setiap permainan hidup ini pasti diwarnai yang namanya menang dan kalah. Menurut gw g ada yg namanya seri, apalagi dalam kehidupan g ada yg namanya perpanjangan waktu. This is about time guys, waktu itu g bisa dibalikin.

Kadang di antara kita g ada yg bisa nerima yg namanya kekalahan. Kemarin, gw kalah lagi. Entah kekalahan yg ke berapa dalam hidup gw. Dan hari kemarin gw kalah dua kali. Yang pertama, gw kalah karena g jebol seleksi beasiswa. Kekalahan itu diwarnai dengan keberhasilan empat temen lorong gw termasuk yg sekamar sama gw. Merek lolos guys. Iri. Sebel.

Second lost adalah gw kalah dalam lomba LCTA (Lomba Cepat Tepat Asrama). Gw dipercaya mewakili lorong, padahal gw biasa-biasa aja menurut gw. Babak sebelumnya gw bisa lolos karena unggul satu pertanyaan. "Siapa juara EPL musim 2008/2009?" Sangat easy buat olahragawan spt gw. Dan babak final menanti. Di final, gw cuma cuma bisa ngejawab satu pertanyaan. "Siapa pemain Jerman yg absen di PD 2010 karena cedera?" Its very easy. Tp sayang, gw tersingkir dan kalah. Oke.

Setidaknya, gw masih cinta [berita] olahraga, dan sepak bola. Guys, mari kita nikmati kekalahan. Karena dibalik kekalahan pasti ada kemenangan. (kata siapa lagi tuh.... )

Sekian. Salam Olahraga. No anarkis just good footbal. Bravo sepakbola nasional!!!

Onion Head Emoticons 50



*keep sharing n be inspiring

gravatar

[Review] Alangkah Lucunya Negeriku


Film ini dibuka dengan menampilkan kondisi lalu lintas Jakarta yang semrawut. Muluk (Reza Rahadian), tokoh utama dalam film ini, begitu entengnya melewati rel kereta api dengan kondisi kereta api sedang berjalan menuju ke arahnya. Kehidupan pasar tradisional ditampilkan apa adanya. Banyaknya peramal, penjual obat, dan sejenisnya seolah ingin menggambarkan keputusasaan sebagian besar masyarakat menghadapi kondisi saat ini dan mencoba mencari “hiburan” berupa janji-janji kan berubahnya nasib mereka.

Kondisi kumuh pasar tradisional ditampilkan. Puncaknya adalah tampilnya para pencopet cilik yang terampil menjalankan aksinya. Di sinilah awal mula film ini bergulir. Ketika tertangkap tangan, sang pencopet kecil yang kemudian diketahui bernama Komet, diberi nasehat oleh Muluk untuk meminta baik-baik ketika membutuhkan uang. Dengan enteng Komet berkata,”Saya kan pencopet bukan peminta-minta.”

Cerita kemudian bergulir dengan dialog-dialog berbobot di antara tokoh tua yaitu Deddy Mizwar yang memerankan Pak Makbbul (ayah Muluk) dan Jaja Miharja sebagai Haji Sarbini (calon mertua Muluk) plus sosok pak Haji Rahmat) yang diperankan Slamet Rahardjo. Tema dialog adalah soal perlu tidaknya pendidikan dengan mengambil contoh kondisi Muluk, seorang sarjana manajemen yang sedang luntang-lantung mencari perkerjaan selama 2 tahun dibanding anak-anak Jaja Miharja yang sukses sebagai pedagang meskipun hanya tamat SMU.

Realita kehidupan di masyarakat yang “sakit” dipotret dalam film ini secara lugas. Potret Jupri, calon anggota DPR yang diperankan Edwin, seolah mencoba menyindir sebagian calon anggota legislatif yang terkesan sedang mencari pekerjaan dengan diiringi bahasa klise tentang perjuangan untuk rakyat. Begitu juga dengan gambaran Pipit yang tenggelam dengan mimpi menjadi pemenang kuis dan Samsul, seorang sarjana pendidikan yang terlalu lama menjadi pengangguran berusaha menghibur diri dengan main “gaple” tanpa mengenal waktu. Kehidupan keluarga, Pak Haji yang diperankan Slamet Rahardjo, seorang pensiunan Depag dengan istri yang sibuk dengan dirinya sendiri plus Pipit yang sibuk mengamati acara kuis di TV.

Pendidikan menjadi tidak penting seolah dikuatkan dengan potret para sarjana pengangguran semacam Muluk, Pipit, dan Samsul. Cerita beralih menjadi heroik tatkala ketiga sarjana pengangguran ini mendidik sekitar 20-an pencopet yang dikoordinir Jarot (Tio Pakusadewo). Meskipun terkesan mengada-ada bahwa ketiga sarjana tersebut mengajar dengan biaya dari 10% hasil mencopet, namun kekuatan dialog-dialog segar, menghibur, dan sarat makna dalam proses “pendidikan” bagi pencopet anak-anak merupakan inti dari film ini.

Lihat saja dialog menarik antara pencopet dengan Samsul dan Muluk tentang penting-tidaknya suatu pendidikan. “Apa gunanya pendidikan bagi pencopet?”. Sebuah pertanyaan lugu dan mewakili pertanyaan dari kaum yang terpinggirkan. Jawabannya pun sungguh di luar dugaan. Samsul, seorang sarjana pendidikan yang tidak yakin bahwa pendidikan diperlukan, menjawab pertanyaan tersebut dengan gaya satir. “Pencopet perlu pendidikan. Dengan mempunyai pendidikan, mereka bisa bekerja di kantor. Dengan demikian mereka mempunyai kesempatan untuk mencopet “brankas” kantor dan akan mendapatkan hasil yang jauh lebih besar dari apa yang mereka lakukan selama ini. Status mereka bukan menjadi pencopet lagi. Mereka akan naik kelas menjadi koruptor” Demikian kira-kira jawaban Samsul yang membuat 20-an pencopet menjawab serempak,”Saya ingin menjadi koruptor“.

Film ini juga kaya dengan berbagai teknik mencopet di pasar, mall, dan angkutan kota.. Organisasi pencopet pun dikupas cukup cerdik. Komet adalah koordinator copet di pasar, Glen koordinator copet di Mall, dan Kampret koordinator copet di angkutan umum. Tidak lupa mafia copet ini digambarkan juga berada di bawah oknum aparat “penegak hukum”.
Jeritan ketidakadilan mampu dibawakan Samsul dengan sangat baik. Tangisannya melihat ketidakadilan, kepedihan, dan keputusasaannya mampu menghipnotis penonton. Koruptor telah merampas hak mereka. Koruptor telah membuat mereka sengsara, namun tidak banyak orang yang menyadarinya. Kalaupun mengetahui, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah menerima kenyataan.

Klimaks cerita mulai terlihat saat Pipit panik, ketika dia mau berangkat ‘kerja,’ tiba-tiba saja trio Haji (Haji Rahmat, abahnya sendiri, Haji Sarbini, dan Haji Makbul) punya ide untuk ikut Pipit ke ‘kantor’-nya karena ingin tahu seperti apa pekerjaan yang dilakukan oleh anak-anak mereka. Pipit tak bisa menolak, maka berangkatlah dia ke markas diiringi 3 Bapak itu. Syamsul yang sedang mengajar di markas dan Muluk pun terkejut mengetahui rombongan yang datang bersama Pipit. Awalnyanya ketiganya bangga saat Pipit dan Syamsul memamerkan bagaimana murid mereka unjuk kebolehan membaca surat dalam Al Qur’an dan hafal butir Pancasila. Sampai kemudian ketiga Bapak yang religius itu tahu bahwa “sumber daya manusia” yang dikembangkan oleh Muluk, Syamsul, dan Pipit semuanya pencopet, tanpa terkecuali.

Suasana haru coba diciptakan dalam film ini saat Haji Rahmat dan Haji Makbul berangkulan menuju masjid untuk mohon ampun pada Tuhan karena mereka sudah ikut makan uang haram, hasil kerja anak mereka. Ekstremnya, Haji Makbul bahkan memisahkan stoples tempat kopi, gula, dan teh untuknya dan untuk Muluk, saat tiba di rumah. Kondisi ini membuat Muluk dan Pipit terpukul lalu berencana untuk menghentikan usaha mereka. Syamsul yang paling tidak terima. Ia merasa sudah menjadi manusia saat kepandaiannya terpakai dengan mengajar, sampai ia berkata dengan keras pada Muluk, “Apa lu mau gue balik lagi tiap hari main gaple ?”

Tetapi Muluk tetap pada keputusannya. Ia sudah bisa membelikan beberapa kotak asongan agar anak-anak didiknya mau beralih profesi menjadi pedagang asongan, dari tabungan hasil mencopet yang sudah ia simpan di sebuah bank syariah hingga mencapai angka Rp 21 juta.

Film ini tidak diakhiri dengan “happy ending”. Samsul kembali main gaple, Pipit tenggelam di alam mimpinya, Muluk bahkan ditahan satpol PP. Begitu juga anak didik mereka, ada yang meneruskan profesinya sebagai pencopet, namun ada sebagian yang mencoba menjadi pengasong. Kedua profesi yang sama-sama beresiko. Ending yang terkesan menggantung memang sengaja dibuat untuk meminimalisir kesan hiperbola dan fiksi film. Agar realita sosial lebih terangkat ending film yang demikian diciptakan, dimana tidak terjadi kejelasan nasib baik Muluk, Samsul, Pipit, dan para pencopet “didikan” mereka. Film ini merupakan refleksi sosial dan mencoba menertawakan diri sendiri ini merupakan sindiran tentang realita yang hidup di masyarakat.

*dikutip dari berbagai sumber dengan sedikit perybahan.
*cmiiw, keep sharing n be inspiring ;)



gravatar

angin lalu

jam 9.40 wib,

Garry :"g telat Dik kita?"
Gw : "g lah, paling klo telat g telat-telat amat"
Garry :"dasar!" "ni tanggal berapa Dik?"
Gw :"26 April 2010, hari Senin. Knapa?"
Garry :"g nyampe sebulan lagi kita udah g bareng lagi ya? Kayaknya baru kemarin gw ketemu lo di kamar 21, ...."
Gw :(diem) *sumpah, g nyangka Garry ngomong kyk gitu, meleleh dah gw.........*


(diiringi semilir angin, kita berdua terus melangkah menuju ruang kuliah masing-maing, dengan diam tentu saja)



Kampus Dalam, Dramaga, Bogor, Indonesia
Senin, 26 April 2010

gravatar

- blog disease[s] -

sudahkah anda mengosok gigi??? . . . Ya, menggosok gigi memang sepele, tapi akan sangat berdampak buruk bagi keribadian anda. Lho?? Ya, ketika anda tidak rajin menggosok gigi, mulut anda akan bau lebih-lebih ketika anda sedang berbicara dengan orang lain. Dan kepribadian anda akan terancam karena anda akan dikenal sebagai seseorang yang bermulut bau... (O_O).. .
Ibarat mulut saudara, blog juga seperti itu. Ada saja yang membuat kita malas untuk mem-posting tulisan ato apalah namanya itu..
Inilah yang namanya penyakit yang dialami oleh sebagian banyak blogger Indonesia, gejalanya. ..

  • pada saat offline (biasanya pada saat ngelamun di WC dan tempat sepi lainnya) mempunyai hasrat yang menggebu-gebu dan ide yang mengalir dengan luar biasa, namun hilang begitu saja saat berhadapan dengan layar monitor laptop ato pc, terlebih setelah membuka pesbuk ato twiter. Dijamin ide anda akan menguap begitu saja.....
  • punya banyak alasan untuk menunda penulisan... ... .
  • udah, kayaknya dua alasan di atas cukup mewakili semuanya. T.T
Oke deh. Kayaknya ide menulis gw udah menguap. Intinya : Jangan menunda, INGAT LIMA PERKARA!!! LoL :narcisist: